Kelompok Kampungan (Akurama 1980)
Album ini dikuakkan oleh cuplikan pidato berapi-api dari Bung Karno yang berlangsung di Istana Negara dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1964 :
Di dalam kitab ramayana ada disebut sebuah negeri,
namanya Utara kuru yaitu Kurawa
Utarakuru
Disebutken bahwa di dalam Utarakuru itu
tidak ada panas yang terlalu
tidak ada dingin yang terlalu
tidak ada manis yang terlalu
tidak ada pahit yang terlalu
Semuanya itu tenang… tenaaaang
adem ayem tentrem.. kadyo siniram banyu wayu sewindu lawase
Semuanya itu tenang… tenaaaang
Utarakuru
Apa engkau ingin menjadi negara yang demikian sodara-sodara?
TIDAAAK!!
Kita tidak ingin menjadi negeri yang demikian
karena negeri yang semacam ini tidak ada up and down
up and down
up and down
hampir hancur lebur.....tapi bangkit kembali
hampir hancur lebur.....tapi bangkit kermbali
(Suara BK mernggelegar laksana halilintar yang tiada gentar menyambar-nyambar)
Saat menyimak album ini saya baru duduk dibangku SMA kelas 1.Terus terang,saat itu,timbul rasa kagum pada kelompok yang dipunggawai oleh Bram Makahekum ini.Mereka lugas,berani.Musiknya pun memendam hibrida antara tradisional dan barat.Liriknya dalam.Lalu siapakah mereka?
Kelompok Kampungan ditetaskan dari paguyuban teater Bengkel WS Rendra.Jadi tak perlu heran,sebetulnya.
Ketika di awal 80-an musik pop beertebaran dengan semangat gincu yang merona,Kelompok Kampungan merengsek dengan segala ketidaklaziman.Herannya label Akurama Record yang baru saja merilis album "Sakura" Fariz RM,ternyata tertarik untuk merilis album yang potensial untuk dicekal aparat.Sungguh,saya pun kagyum dengan Hartono Hendra,si babah pemilik Akurama ini.Dia berani juga.
Lalu daya menikmati track by track album ini.Hmmm....memang mengangsurkan sesuatu getar musikal yang natural.Dan mungkin itu jualah yang menjadi konsep kelompok yang didukung Bram Makahekum,Areng Widodo,Sawung Jabo,Rudra,Agus Murtono,Joko ,Bujel Dipuro hingga Inisisri.
Dalam liner notesnya, mereka menulis prakata :
Pernah disuatu pagi disebuah kampung dekat pantai Selatan, ombak menderu-deru dan menghentak-hentak bagai suara gendang ditabuh, deru angin menggesek pepohonan bagai gesekan biola berduet dengan cello, suara serangga dari bebukitan seperti bunyi alat-alat kecil perkusi terbuat dari besi dan kayu, suara ayam-ayam jantan berkokok bersahut-sahutan seperti suara bass yang sesekali muncul, burung-burung berkicau di udara seperti melodi yang bersahut-sahutan, semuanya menjadi satu keseluruhan, begitu harmoni terdengar ditelinga.
Suasana ini begitu kuat mencekam indera pendengaran sehingga seakan-akan indera lainnya seperti tak ada. Dalam keadaan asyik mendengar ini tiba-tiba terlintas dalam benak suatu kesadaran bahwa semua bentuk musik itu berasal dari bunyi, jadi dengan alat apapun asal bisa menimbulkan bunyi dapat menjadi musik, tergantung dari selera, ingin memakai alat-alat yang berasal dari jenis besi, kulit, logam, kayu, yang ditiup atau ditabuh, atau digenjreng dlsb.
Lalu simaklah lagu "Mereka Mencari Tuhan".Saya suka guratan lariknya :
Kami ingat muka-muka mereka
ketika kami duduk dan bersabar
Sinar bulan menari-nari
memeluk mereka satu per satu
Kami ingat setiap wajah mereka
ketika kami sujud dan berdoa
Ada yang seperti Sawito
Ada yang seperti Hamka
Ada yang seperti Hatta
Ada yang seperti Sukarno
Ada yang seperti Rendra
Ada yang seperti Bang Ali
Ada yang seperti Budha
Ada yang seperti Yesus
Seperti sudah direncanakan
setiap muka tanpa ekspresi
bau pantai dan bunyi alam
merangsang semua panca indra
membuat setiap jiwa satu.. uu…
Dia yang seperti Yesus
berambut gondrong sampai ke pundak
bercelana jeans dan juga jaketnya
berdiri dan menengadah kelangit.
Dia bilang:
“Tuhan… aku ini milikMu
dan mengabdi kepada kehendakMu
Semua tindakanku aku serahkan kedalam tanganMu
melewati alam dan kehidupan”
Lalu dia yang seperti Budha
menuangkan semangatnya ke dalam telinga alam semesta,
dan berkata:
“Alam… lepaskan aku dari kotak-kotak kebudayaan
yang menjadi beban kehidupan ini.
Getarkan seluruh tubuh dan jiwaku
agar aku dapat berkata:
Tuhan tidak buta”
Mereka mencari Tuhan
Mereka mendekati alam
Mereka mendekati kehidupan
Mereka mulai meragukan nilai-nilai yang sudah mapan
Disamping memposisikan diri sebagai penyaksi,Kelompok Kampungan pun menempatkan aura berkeseniannya sebagai penggugat. (Di Barat sana sejak akhir 60-an telah ditahbiskan "protest song" oleh generasi belia Bob Dylan,Joan Baez ,Neil Young dan lainnya).
Simaklah gugatan Kelompok Kampungan dalam "Berkata Indonesia dari Yogyakarta" :
Dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda
Anak muda Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Irian Jaya memasuki kota Yogyakarta..."
Kini bukan lagi gengsi suku yang mereka bicarakan
Tetapi gengsi generasi muda Indonesia
Sebagai penerus perjalanan bangsa
Mereka memasuki bangku sekolah dari universitas
Serta menempa kepribadian di berbagai aktivitas kesenian".
Dipenghujung kaset ini,Kelompok Kampungan pun memusikalisasikan puisi karya WS Rendra,"Aku Mendengar Suara" :
Orang-orang harus dibangunkan.
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan tetap terjaga".
Tracklist
1 Bung Karno
2 Ratna
3 Mereka Mencari Tuhan
4 Catatan Perjalanan
5 Hidup Ini Seperti Drama
6 Berkata Indonesia Dari Yogyakarta
7.Wanita
8 .Terlepas Dari Frustasi
9.Aku Mendengar Suara
tulisan by:
denny sakrie